Pentingnya Imunisasi

Tuhan menciptakan setiap makhluk hidup dengan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar dirinya. Salah satu ancaman terhadap manusia adalah penyakit, terutama penyakit infeksi yang dibawa oleh berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit atau pun jamur. Untuk itulah dibutuhkan imunisasi sejak dini.

Sebenarnya apa sih imunisasi itu? Imunisasi berasal dari bahasa latin “Immunitas”. Immunitas ini merujuk pada pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatannya terhadap kewajiban sebagai warga negara biasa dan terhadap dakwaan. Seiring dengan perkembangan zaman, istilah ini berkembang pula pengertiannya menjadi perlindungan terhadap penyakit, khususnya terhadap penyakit menular.

Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya: vaksinasi imunisasi dasar pada bayi. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya: penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada korban kecelakaan.

Mengingat fungsi imunisasi yang dapat memberikan kekebalan terhadap penyakit, khususnya penyakit menular, maka penting sekali bagi bayi untuk mendapatkan vaksinasi imunisasi dasar. Imunisasi dasar ini meliputi vaksin BCG, vaksin DPT, vaksin Hepatitis, vaksin TT (Tetanus Toxoid), vaksin Polio, dan vaksin Campak. Beberapa vaksin imunisasi perlu diulang pemberiannya untuk mempertahankan kekebalan tubuh terhadap paparan bibit penyakit. Vaksin imunisasi dasar yang perlu diulang meliputi DPT, Polio, dan Hepatitis. Sedangkan vaksin BCG dan Campak tidak perlu diulang pemberiannya karena kekebalan yang telah diperoleh dapat memberikan perlindungan terhadap bibit penyakit dalam jangka waktu cukup lama.

Imunisasi terkadang dapat mengakibatkan efek samping. Efek samping yang biasa terjadi adalah sebagai berikut:

  • DPT: umumnya pasca vaksinasi imunisasi DPT, bayi menderita panas, merasa nyeri, sakit, merah atau bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan khusus karena akan sembuh sendiri dalam waktu 2 hari.
  • BCG: pasca vaksinasi BCG akan terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan. Setelah 2 – 3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah kurang lebih 10 mm. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut kecil.
  • Campak: anak mungkin akan mengalami panas, kadang disertai dengan kemerahan 4-10 hari pasca vaksinasi.
  • Hepatitis, Tetanus Toxoid, dan Polio: jarang dilaporkan adanya efek samping.

Perlu diingat bahwa efek samping imunisasi jauh lebih ringan daripada efek penyakit bila bayi tidak diimunisasi. Efek samping tersebut justru merupakan tanda baik yang membuktikan bahwa vaksinasi betul-betul bekerja secara tepat. Jadi orang tua tidak perlu khawatir bila  terlihat gejala efek samping pasca vaksinasi imunisasi.

Dapatkan imunisasi di tempat pelayanan kesehatan terdekat, seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Rumah Sakit Bersalin, BKIA, Rumah Sakit Pemerintah/Swasta, dan di tempat praktik dokter/bidan. Mari perbaiki tingkat kesehatan, ciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara demi masa depan generasi mendatang yang lebih baik. (dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Caresland powered by WordPress
-->